Skip to content

MSC Akan Gantikan Posisi Hutchison di JICT dan TPK Koja

Mediterranean Shipping Company (MSC), melalui unit bisnisnya Terminal Investment Limited (TIL), diperkirakan akan menjadi operator baru di dua terminal terbesar Indonesia, Jakarta International Container Terminal (JICT) dan TPK Koja, menggantikan posisi Hutchison (HPI). Kedua terminal ini saat ini menangani hampir separuh ekspor-impor petikemas Indonesia.

Kemungkinan ini terjadi setelah kesepakatan penting yang tercapai pada Selasa, 4 Maret 2025, antara CK Hutchison (pemegang 49% saham di JICT dan TPK Koja) dan konsorsium yang terdiri dari BlackRock-TIL terkait penjualan saham.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Dalam kesepakatan ini, CK Hutchison setuju untuk menjual sahamnya di 43 pelabuhan di 23 negara kepada konsorsium tersebut, termasuk di Indonesia (JICT dan TPK Koja), namun tidak termasuk pelabuhan-pelabuhan Hutchison di Hong Kong dan China Daratan.

Transaksi senilai $22,8 miliar ini merupakan yang terbesar di sektor terminal peti kemas global. Transaksi ini terjadi di tengah meningkatnya tensi politik AS-China pada sektor perdagangan dan kemaritiman, khususnya di Terusan Panama. Tensi tersebut dinilai mempercepat proses negosiasi, termasuk negosiasi penjualan 90% saham Hutchison Port Holdings di Panama Ports Company, yang mengelola Pelabuhan Balboa dan Cristobal di kedua sisi dari Terusan Panama.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, sejak Desember lalu, Presiden Donald Trump secara terbuka mengkritik dugaan pengaruh Tiongkok dalam operasi Terusan Panama. Trump curiga, pengaruh Tiongkok di Terusan Panama dilakukan lewat kehadiran Hutchison sebagai operator Pelabuhan Balboa dan Cristobal.

Menurut data Drewry, Hutchison Ports yang saat ini mengelola 43 terminal peti kemas di luar Tiongkok dan Hong Kong memiliki total kapasitas gabungan lebih dari 73 juta TEU, dengan realisasi throughput mencapau 47 juta TEU pada tahun 2023.

Hal ini juga semakin memperkokoh kehadiran MSC dalam bisnis kepelabuhan di Indonesia. Sebelumnya, lewat anak usahanya yang lain – Africa Global Logistics (AGL) – MSC juga membentuk konsorsium dengan Toyota Tsusho Corporation (TTC), dan Samudera Indonesia untuk menjadi operator terminal petikemas Patimban.

MSC Akan Jadi Operator Terminal Terbesar Global

Drewry menilai kesepakatan ini akan menjadikan MSC (melalui TIL) sebagai operator terminal peti kemas terbesar di dunia, menggantikan posisi PSA (Port of Singapore Authority).

Hingga 2023, MSC adalah operator terbesar ke-7 global, sementara Hutchison berada satu peringkat lebih tinggi. Posisi teratas masih ditempati oleh PSA, diikuti oleh China Merchant Ports, China COSCO Shipping, APM Terminals, dan DP World. Namun, setelah akuisisi ini selesai, dengan memasukan pelabuhan/terminal yang saat ini dioperasikan Hutchison, MSC diprediksi akan naik ke posisi pertama, menggeser PSA.

“Kesepakatan ini akan membuat MSC menjadi operator terminal petikemas terbesar global, melewati operator-operator lainnya. Hal ini juga akan memperkuat jaringan terminal peti kemas global MSC yang benar-benar menjangkau seluruh dunia,” kata Eleanor Hadland, Analis Drewry

Namun, ada tantangan regulasi yang mungkin memperlambat proses akuisisi ini. “Kesepakatan ini menjadi kemenangan besar bagi MSC. Namun, kami memperkirakan proses regulasi akan memakan waktu setidaknya satu tahun,” jelas Eleanor Hadland.

Lebih Strategis Bagi JICT dan TPK Koja

Meskipun PT Pelindo dan Hutchison Ports Indonesia (HPI) sebagai pihak terkait belum memberikan komentar bagaimana efek dari kesepakatan ini terhadap kerja sama Pelindo dan HPI di kedua terminal tersebut, namun informasi yang diperoleh Indonesia Shipping Gazette dari sumber internal Pelindo mengungkapkan langkah ini memiliki dampak yang sangat strategis, tidak hanya bagi JICT dan TPK Koja, tetapi juga untuk perkembangan industri ekspor-impor Indonesia secara keseluruhan.

Menurut sumber yang enggan disebutkan namanya, proses pengambilalihan ini dianggap lebih strategis, mengingat posisi MSC sebagai pemain terbesar dalam industri pelayaran global. Setelah pengambilalihan berjalan, MSC akan menjadi operator terminal atau pelabuhan peti kemas terbesar global. Hal ini diharapkan memberikan dampak signifikan terhadap pengembangan jaringan bisnis, terutama dalam meningkatkan konektivitas pelabuhan-pelabuhan di Indonesia, khususnya JICT dan TPK Koja.

MSC sendiri saat ini merupakan perusahaan pelayaran terbesar di dunia, yang memiliki armada kapal kontainer terbanyak dan jaringan rute internasional terluas. Keberadaan MSC sebagai bagian dari operasional pelabuhan di Indonesia dinilai akan memberikan keuntungan dalam hal peningkatan kunjungan kapal dan pelayanan yang lebih efisien. Ini tentu menjadi keuntungan besar bagi JICT dan TPK Koja dalam mengembangkan kapasitas dan efektivitas operasionalnya, yang secara langsung dapat mendukung pertumbuhan ekspor-impor di Indonesia.

Sumber tersebut juga menyoroti perbedaan signifikan antara MSC dan Hutchison dalam hal fokus bisnis. Hutchison, meskipun memiliki banyak unit usaha pelabuhan di berbagai negara, tidak memiliki unit usaha pelayaran, yang membatasi kemampuan perusahaan dalam meningkatkan kunjungan kapal ke pelabuhan-pelabuhan yang dikelola. Hal ini berbeda dengan MSC yang secara langsung dapat mengoptimalkan jaringan kapal mereka untuk mendatangkan lebih banyak kapal kontainer ke pelabuhan-pelabuhan yang mereka operasikan.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Hutchison terlihat kurang fokus dalam mengembangkan bisnis pelabuhan, dengan kontribusi sektor pelabuhan hanya mencapai sekitar 9% dari total pendapatan grup. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan pelabuhan bukanlah prioritas utama bagi Hutchison, yang lebih fokus pada bisnis lain yang lebih menguntungkan. Berbeda dengan MSC, yang memiliki potensi lebih besar dalam mengembangkan jaringan pelabuhan dan meningkatkan operasional terminal peti kemas.