Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia mengimbau masyarakat, khususnya para pekerja pelabuhan di seluruh Indonesia, untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh berbagai isu yang berkembang di tengah situasi ekonomi global yang bergejolak.
Seruan ini disampaikan menyusul kenaikan harga minyak dunia yang dilaporkan menembus lebih dari 110 dollar AS per barel serta melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollar AS. Menurut Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia, kondisi tersebut masih berada dalam kendali pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto.
Koordinator Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia, Muhamad Riyadh, menyatakan bahwa masyarakat tidak perlu panik menghadapi dinamika ekonomi global. Ia menilai pemerintah tengah mengambil langkah-langkah kebijakan yang hati-hati dan disiplin untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional serta melindungi kepentingan masyarakat, khususnya kelompok menengah dan kecil.
“Kami mengimbau seluruh rakyat Indonesia, terutama para buruh pelabuhan, agar tidak mudah terpengaruh oleh isu-isu menyesatkan yang dapat memicu keresahan di tengah masyarakat,” kata Riyadh dalam pernyataan tertulis yang dirilis di Jakarta, Minggu (9/3/2026).
Dampak Konflik Global
Menurut Riyadh, tekanan terhadap nilai tukar rupiah dan kenaikan harga energi tidak terlepas dari situasi geopolitik global, termasuk meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Konflik tersebut mendorong terjadinya fenomena “risk aversion” atau penghindaran risiko di pasar keuangan global. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung memindahkan investasinya dari aset berisiko menuju aset yang dianggap lebih aman, seperti dollar AS.
Akibatnya, permintaan terhadap dollar meningkat sehingga mata uang tersebut menguat terhadap berbagai mata uang dunia, termasuk rupiah.
Selain itu, harga minyak mentah global yang melampaui 100 dollar AS per barel juga turut memperkuat posisi dollar. Kenaikan harga energi umumnya berkontribusi pada penguatan mata uang negara dengan pengaruh besar di pasar energi global.
Dampak terhadap Ekonomi Nasional
Meski demikian, Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia menilai kondisi tersebut tidak sepenuhnya berdampak negatif bagi Indonesia. Penguatan dollar, menurut mereka, dapat meningkatkan daya saing produk ekspor Indonesia di pasar internasional.
Selain itu, situasi tersebut juga berpotensi mendorong masyarakat untuk lebih memprioritaskan penggunaan produk dalam negeri dibandingkan barang impor.
Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia juga menyoroti sejumlah program pemerintah yang dinilai penting bagi masa depan Indonesia, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tengah dijalankan pemerintahan saat ini.
Riyadh menyebut adanya sejumlah kelompok yang menolak program tersebut. Menurutnya, penolakan tersebut patut dicermati karena program tersebut bertujuan meningkatkan kualitas gizi dan pembangunan sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
Dukungan terhadap Kebijakan Ekonomi
Selain itu, Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia juga menilai kerja sama perdagangan resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat berpotensi membuka peluang baru bagi pertumbuhan industri nasional.
Pembelian minyak dan gas alam cair (LNG) dari Amerika Serikat, misalnya, dinilai dapat menjadi alternatif pasokan energi di tengah terganggunya jalur perdagangan energi dari kawasan Timur Tengah akibat konflik yang sedang berlangsung.
Di akhir pernyataannya, Dewan Buruh Pelabuhan Indonesia menyerukan kepada seluruh pekerja dan buruh pelabuhan di Indonesia untuk tetap fokus bekerja serta menjaga stabilitas sektor logistik dan perdagangan nasional.
“Para pekerja pelabuhan memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran arus barang dan perdagangan. Karena itu, kami mengajak seluruh buruh pelabuhan untuk tetap bekerja dengan semangat dan tidak terprovokasi oleh isu yang dapat mengganggu stabilitas,” ujar Riyadh.

