Harga charter kapal multipurpose (MPV), baik kapal pengangkut kargo breakbulk maupun kapal pengangkut project cargo, diperkirakan masih tinggi tahun ini. Menurut Drewry, sebuah Lembaga Research berbasisi di London yang fokus pada aktivitas perdagangan laut, tingginya harga charter masih disebabkan oleh dua hal yakni efek psikologi pandemi yang belum pasti kapan berakhir serta gangguan rantai pasok yang belum pulih.
Kendati demikian, masih ada kemungkinan tariff charter akan turun. Tingginnya inflasi bisa membuat permintaan terhadap kargo akan turun sehingga berdampak juga pada penurunan permintaan terhadap kapal charter. Khusus menjelang akhir tahun, menurut Drewry, tariff charter juka bisa dipengaruhi oleh bertambahnya supply. Memang, penambahan dari sisi supply diperkirakan baru masif tahun depan, namun efek psikisnya mulai dirasakan pada akhir tahun ini. Dan hal tersebut bisa saja mempengaruhi harga charter. Memang, fluktuasi tarif kapal multipurpose tidak separah kapal kontainer.
Kenaikan tarif sewa kapal multipurpose sudah mulai terlihat tahun lalu sejalan dengan kenaikan vilume bulk cargo. Permintaan terhadap kapal multipurpose, baik untuk untuk bulk cargo maupun project cargo naik hampir 9% selama tahun 2021. Dibanding tahun 2020 yang turun sebesar 2,5%, kenaikan permintaan pada tahun 2021 turut memicu kenaikan tariff charter.
Tingginya permintaan terhadap kapal multipurpose juga dipicu oleh tingginya permintaan terhadap space kapal kontainer. Tahun lalu, sejumlah kapal multipurpose juga menjadi alternatif untuk barang-barang kontainer. Ketika space kapal kontainer tidak tersedia, pemilik barang memilih menggunakan kapal multipurpose agar barangnya bisa dikirim sesuai jadwal.
Pada tahun ini (2022) masalah kekurangan space kapal kontainer diperkirakan masih berlanjut. Kapal multipurpose diperkirakan akan menjadi alternatif. Pada awal tahun, sejumlah komoditas yang biasanya diangkut menggunakan petikemas mulai diangkut menggunakan kapal multipurpose. Hasil pantauan Drewry memperlihakan beberapa komoditas kopi di sejumlah negara tertentu mulai diangkut dengan menggunakan kapal multipurpose.
Apalagi, walau varian Omicron dianggap tidak terlalu membahayakan sehingga dinilai tidak terlalu mengganggu aktivitas perdagangan, akan tetapi kebijakan ketat sejumlah negara, terutama China yang menerapkan kebijakan tanpa toleransi (zero case), sangat berdampak pada kelancaran arus kontainer. Masalah rantai pasok (perdagangan dengan kontainer) masih jauh dari selesai.
Akan tetapi, Drewry memberi catatan, prospek market kapal multipurpose yang begitu moncer seperti saat ini, tidak akan berlangsung lama. Jika nanti kapal-kapal petikemas yang saat ini sedang dibangun sudah selesai dan mulai dioperasikan, kapal multipurpose akan kembali kehilangan market-nya.
Seperti diketahui sejumlah besar kapal kontainer yang saat ini sedang dibangun akan di-deliver tahun depan (2023). Menurut Drewry, hal ini akan membawa dampak buruk bagi kapal multipurpose.
Sumber: Drewry

