Aktivitas logistic dan supply chain pada umumnya serta industry shipping (container) pada khususnya, diprediksi akan kembali normal pada akhir bulan ini (April), menyusul semakin meredanya penyebaran Covid-19 di China, terutama di Shanghai sebagai kota pelabuhan terbesar global dan pusat aktivitas supply chain dunia.
Hal tersebut disampaikan Tim Huxley, pendiri Mandarin Shipping, sebagaimana ditulis CNBC Street Signs Asia baru-baru ini.
Sebagaimana dilaporkan sebelumnya, sejak Bulan Maret lalu, Shanghai di-lock down, menyusul peningkatan kasus Covid-19 di kota tersebut. Sebagai kota pelabuhan terbesar global dengan container throughput mencapai kurang lebih 47 juta TEUs setahun, situasi ini tentu sangat berdampak pada aktivitas logistic dan rantai pasok global.
“Memang, pelabuhan itu sendiri sebenarnya tetap terbuka sehingga kapal masih bisa masuk. Masalahnya, aktivitas di sisi darat banyak yang ditutup. Proses pengiriman container baik dari pelabuhan ke gudang atau kawasan industry maupun sebaliknya (dari kawasan industry ke Pelabuhan), sebagian besar terhenti,” kata Huxley.
Shanghai bukan satu-satunya pelabuhan di China yang mengalami ketersendatan pengiriman dan logistic dalam kurang lebih dua bulan terakhir. Sejak akhir Februari, China telah dihempas dengan lonjakan kasus Covid dalam gelombang terburuk negara itu sejak pandemi dimulai pada awal 2020. China telah memberlakukan aturan ketat pada pengemudi truk yang memasuki Shanghai, kota terbesarnya dan salah satu yang paling terpukul dalam baru-baru ini. Pembatasan tersebut telah mengahambat pengiriman barang. Pengiriman barang, dari dan ke di Shanghai menjadi lebih mahal dan kurang efisien.
Shanghai, kata Huxley, terkenal dengan system rantai pasok yang ketat dan proses pengiriman yang cepat (just-in-time). Akibatnya, katanya, pabrik-pabrik dengan cepat tutup ketika ada gangguan rantai pasok. “Di situlah “tekanan besar” terjadi.”
Antrian kapal peti kemas di luar pelabuhan besar China seperti Shanghai, menurut Huxley, cukup besar selama terjadi lock down. Bahkan, banyak kapal yang memutuskan untuk tidak call ke Shanghai selama terjadinya lock down.
Gangguan rantai pasokan telah mengganggu ekonomi global sejak tahap awal pandemi sebagai akibat dari adanya lock down dan perubahan perilaku konsumen. Hal ini kemudian diperparah oleh perang Rusia-Ukraina yang saat ini masih berlangsung.
Huxley mengakui masih butuh waktu lama agar semuanya benar-benar kembali normal, namun kebangkitan cepat di China, baik pada tahap awal pandemi maupun yang saat ini sedang berlangsung bisa dijadikan sebagai pelajaran berharga bagi perekonomian global.
“Tentu kita semua paham. Gangguan rantai pasok telah memicu kenaikan freight rate yang sangat luar biasa yang bahkan kita tidak pernah alami sebelumnya.”
“Saat ini, kita tidak tahu dengan jelas apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun, yang pasti, akan ada permintaan dalam jumlah begitu besar pada satu sisi sementara pada sisi lainnya stok barang akan tersedia kembali menyusul kembali beroperasinya pabrik. Aktivitas ekspor diperkirakan akan kembali meningkat,” jelas Huxley.

