Skip to content

GlobalData: Risiko Global Meningkat Pada Kuartal pertama Tahun 2022 Dengan Kekhawatiran Stagflasi di Tengah Konflik Rusia-Ukraina

GlobalData mengungkapkan bahwa invasi Rusia ke Ukraina merupakan kejutan global tak beraturan ketiga setelah krisis keuangan 2008 dan pandemi COVID-19, yang dapat memperlambat pemulihan ekonomi global. GlobalData mencatat bahwa gangguan rantai pasokan, kenaikan tingkat harga, dan dorongan vaksinasi yang tidak merata merupakan faktor risiko utama secara global pada kuartal pertama tahun 2022.

Menurut laporan GlobalData, ‘Global Risk Report Quarterly Update – Q1 2022’, risiko global meningkat dari 42,9% pada kuartal keempat tahun 2021 menjadi 43,5% pada kuartal pertama tahun 2022.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Puja Tiwari, Analis Riset Ekonomi di GlobalData, berkomentar, “Pecahnya konflik Rusia-Ukraina pada akhir Februari 2022 menyebabkan pasar keuangan global jatuh dan membuat harga energi melonjak. Pada Maret 2022, tingkat inflasi meningkat ke level tertinggi di beberapa negara antara lain AS, Inggris, Jerman, dan Brasil. Dengan pemerintah nasional di seluruh dunia berencana untuk mengadopsi pengetatan moneter bertahap pada tahun 2022, situasi saat ini membuat mereka menghadapi tantangan yang tinggi untuk mencapai soft landing dengan proses penarikan dukungan kebijakan.”

Eropa – Tekanan inflasi dan kekhawatiran fiskal tampak besar

Kendati Eropa tetap menjadi wilayah dengan risiko terendah di kuartal pertama tahun 2022 dengan skor 34,5%, namun skor risiko meningkat selama pembaruan terakhir sebagai dampak dari perang Rusia-Ukraina. Meningkatnya tekanan inflasi, defisit fiskal yang tinggi, peningkatan pengeluaran untuk pertahanan dan gelombang besar pengungsi di kawasan ini berpotensi membuat prospek ekonomi Eropa keluar jalur. Sementara sanksi terhadap Rusia akan melemahkan sektor-sektor strategis ekonomi Rusia dengan menghalangi akses negara tersebut terhadap teknologi dan pasar utama, sanksi itu juga akan memperlambat pemulihan ekonomi Eropa.

Swiss, Denmark, Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Jerman terus berada di daftar 15 negara teratas dengan risiko rendah di kuartal pertama tahun 2022.

Asia-Pasifik – Pembatasan yang diperbarui di China serta krisis ekonomi dan politik di negara-negara lain Kawasan tersebut tetap menjadi perhatian utama

Di Asia-Pasifik, skor risiko meningkat dari 41,4% pada kuartal keempat tahun 2021 menjadi 42% pada kuartal pertama tahun 2022. Krisis politik di Pakistan, krisis ekonomi yang sedang berlangsung di Sri Lanka, pembatasan COVID-19 yang diperbarui di China, dan penutupan pusat manufaktur utama tetap menjadi penyebab utama faktor risiko pada kuartal pertama tahun 2022.

Dampak krisis energi China pada kuartal ketiga dan keempat tahun 2021 terasa pada kuartal pertama tahun 2022 di seluruh sektor manufakturnya. GlobalData merevisi turunnya pertumbuhan PDB China dari 5,5% pada Desember 2021 menjadi 4,5% pada April 2022 karena penurunan aktivitas pabrik di tengah gangguan rantai pasokan yang didorong oleh harga dan biaya energi yang lebih tinggi.

Singapura, Selandia Baru, dan Hong Kong tetap menjadi negara dengan risiko rendah di kawasan ini pada kuartal pertama tahun 2022, sedangkan Pakistan, Myanmar, dan Turkmenistan tetap menjadi negara dengan risiko tertinggi.

Amerika – Ketegangan geopolitik, kenaikan tingkat harga, dan pengetatan kebijakan adalah risiko utama

Berdasarkan pembaruan GlobalData Country Risk Index (GCRI) kuartal pertama tahun 2022, Amerika merupakan wilayah dengan risiko tertinggi kedua, dengan skor risiko regional sebesar 47,4%. Menurut pembaruan GCRI pada kuartal pertama tahun 2022, peringkat AS tetap tidak berubah di urutan keenam dari 136 negara. Brasil, Kolombia, dan Ekuador menunjukkan peningkatan tercepat dalam peringkat mereka, yang mencerminkan pemulihan ekonomi yang stabil di tengah penghapusan pembatasan pandemi secara bertahap. Di sisi lain, peringkat risiko Kanada, Panama, dan Uruguay semakin turun, seiring dengan memburuknya inflasi dan krisis utang.

Sementara pemulihan ekonomi AS tetap pada jalurnya hingga kuartal pertama tahun 2022, risiko dalam bentuk dampak ekonomi dari perang Rusia-Ukraina, kebijakan moneter yang lebih ketat, inflasi yang memuncak, kenaikan harga minyak mentah, dan meningkatnya ketegangan perdagangan dengan China tampak besar.

Dalam pembaruan GCRI pada kuartal pertama tahun 2022, AS dan Kanada tetap berada dalam daftar 15 negara teratas dengan risiko paling kecil.

Timur Tengah dan Afrika – Wilayah ini terus dilanda konflik sosial dan gejolak geopolitik

Wilayah Timur Tengah dan Afrika (MEA) menjadi wilayah dengan risiko tertinggi dalam pembaruan GCRI pada kuartal pertama tahun 2022. Kerusuhan sosial, meningkatnya utang dan inflasi merupakan ancaman besar bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut.

Akibat dari kenaikan harga minyak, menyebabkan terjadinya peningkatan pendapatan produsen dan eksportir minyak utama di negara-negara Timur Tengah dan Afrika. Namun, harga impor juga meningkat di tengah meluasnya tingkat harga barang dan jasa. Oleh karena itu, sebagian besar negara berkembang dan terbelakang di kawasan ini menghadapi biaya impor yang lebih tinggi, yang menambah ketidakamanan dan keresahan sosial di kawasan MEA. Akibatnya, risiko Kawasan tersebut meningkat dari 50,8% pada kuartal keempat tahun 2021 menjadi 51,2% pada kuartal pertama tahun 2022.

Mozambik, Yaman, dan Suriah merupakan negara dengan risiko tertinggi di kawasan MEA dalam update GCRI pada kuartal pertama tahun 2022.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

Tiwari menyimpulkan, “Tingkat kenaikan harga yang melonjak diperkirakan akan tetap menjadi faktor risiko utama bagi negara-negara berkembang dan terbelakang, yang dapat memperburuk krisis kemanusiaan yang ada. Pemerintah di seluruh dunia perlu menilai kembali kerangka kebijakan mereka untuk mengatasi dampak dari lonjakan harga untuk memenuhi penebusan ekonomi.”