Skip to content

Trump Naikkan Tarif Impor, Akan Ada Lonjakan Pengiriman Sebelum Tarif Baru Berlaku

Kemenangan Donald Trump dalam pemilihan presiden AS mengafirmasi apa yang telah diprediksikan sebelumnya, khususnya selama masa kampanye. Importir AS akan mempercepat proses impor sebelum kenaikkan tarif impor benar-benar berlaku.

Trump, dalam kampanyenya, akan kembali melakukan pengetatan impor dengan menaikkan tarif. Trump berjanji untuk menaikkan tariff impor sebesar 10%-20% untuk semua jenis barang dan semua negara asal. Sementara khusus untuk barang-barang impor dari China, akan dikenakan kenaikan tariff yang jauh lebih besar, yakni antara 60%-100%.

Get Free Latest Magazine by Join Our Weekly Newsletter:Click here to join free weekly newsletter

Paul Brashier, Wakil Presiden Rantai Pasok Global di ITS Logistics, menyebut situasi ini sebagai pengulangan tahun 2018 selama periode pertama Trump terpilih sebagai Presiden AS. Trump terpilih sebagai Preisden ke-45 pada periode 2017-2018. Dan, pada tahun 2018, setahun setelah menjadi Presiden, Trump memenuhi janjinya, menaikkan tariff impor.

“Ini akan terjadi lagi. Dan ini tidak hanya untuk impor dari China, tetapi juga untuk impor dari negara lain. Ancaman kenaikan tariff tersebut mendorong seluruh perusahaan di dunia untuk melakukan pengiriman lebih awal,” kata Paul sebagaimana dikutip CNBC.

Paul memperkirakan hal ini akan menyebabkan lonjakan permintaan peti kemas serta kenaikan ocean freight. Memang ia mengakui adanya sentimen yang beragam dari pasar bisnis pelayaran. Untuk jangka pendek, freight rate akan naik sehingga bisa menguntugkan pelayaran, namun untuk jangka panjang, hal ini tidak menguntungkan.

Kekwatiran Efek Jangka Panjang

Saat prospek tarif baru mulai diberlakukan, perusahaan-perusahaan berusaha keras untuk mengantisipasi perubahan tersebut. Pengecer, produsen, dan perusahaan logistik berlomba-lomba memindahkan barang ke AS sebelum tarif naik. Namun, pertanyaan yang lebih besar tetap mengemuka: Apa dampak jangka panjang dari tarif ini terhadap ekonomi global?

Ada kekhawatiran yang berkembang bahwa kenaikan tarif impor tersebut nantinya dapat menurunkan volume perdagangan global. Dalam situasi ini, freight rate turun, dan pendapatan perusahaan pelayaran pun akan tergerus. Kekwatiran inilah yang menjadi alasan kenapa harga saham beberapa perusahaan pelayaran seperti Maersk langsung anjlok sehari setelah pengumuman kemenangan Trump.  

Di sisi lain, para analis berpendapat ketidakpastian merupakan tantangan terbesar yang dihadapi importir AS. Beberapa perusahaan telah mengambil langkah-langkah pencegahan, seperti membawa barang ke AS sebelum pemerintahan baru menjabat.

Namun, langkah-langkah ini hanya memberikan kelegaan sementara. Gangguan yang berpotensi terjadi di pelabuhan-pelabuhan Pantai Timur akibat pemogokan buruh, serta faktor musiman seperti perayaan Tahun Baru Imlek pada bulan Januari, semakin memperumit situasi.

Sementara perusahaan-perusahaan berusaha menavigasi lanskap perdagangan global yang terus berubah, dampak jangka panjang terhadap pengiriman, pengangkutan, dan logistik masih belum dapat dipastikan.

Presiden National Retail Federation (NRF), Matthew Shay, khawatir kebijakan kenaikan tarif yang lebih luas pada akhirnya akan merugikan konsumen AS. Hal tersebut, menurutnya, akan memicu inflasi dan menyebabkan kenaikan harga. “Tarif impor yang tidak strategis pada dasarnya adalah pajak bagi keluarga Amerika,” ujarnya.

“Tarif akan meningkatkan biaya dan menyebabkan hilangnya lapangan pekerjaan. Itulah mengapa kami berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintahan baru guna mengembangkan kebijakan yang dapat mendorong daya saing dan inovasi,” katanya.

Tak Perlu Kwatir Berlebihan

Sejumlah analis menggarisbawahi, efek buruk jangka panjang terhadap industry pelayaran dan usaha jasa pengiriman dari kebijakan tariff tersebut. Dikatakan, penurunan harga saham Maersk menjadi gambaran atau cerminan awal bagaimana para pelaku usaha di sektor ini melihat dampak dari pengenaan tariff tersebut dalam jangka panjang.

Namun, Analis Ben Slupecki dari Morningstar menggambarkan reaksi tersebut terlalu berlebihan. “Kekhawatiran tersebut didasarkan pada ketidakpastian, bukan pada dampak yang terbukti,” katanya, merujuk pada volume perdagangan pada tahun 2018 dan 2019, yang meningkat rata-rata 12% meskipun pada awalnya ada kekhawatiran akan penurunan karena kebijakan tersebut.

Join Telegram Group Shipping & Logistics:

“Perusahaan jasa pengiriman harus siap menghadapi terulangnya kejadian tahun 2018, tetapi dengan potensi tarif yang lebih tinggi pada impor dari Tiongkok,” katanya.