Kendati Masih Tertekan, Bisnis Transportasi dan Logistik Diprediksi Berangsur Pulih Pada Q4

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II 2020 tercatat minus 5,32%. Kontribusi sektor transportasi terhadap penurunan tersebut sangat signifikan. Tercatat, sektor transportasi mengalami penurunan tertinggi, sebesar 30,84%.

Akankah trend tersebut berlanjut pada kuartal III dan IV tahun ini? Menurut para narasumber pada acara Webinar ‘Tantangan dan Potensi Bisnis Logistik Semester II 2020’ yang diselenggarakan sebagai rangkaian kegiatan HUT Indonesia Shipping Gazette ke-24, kendati tidak bisa diperdiksi dengan pasti, namun secara umum, tidak akan sedalam kontraksi pada kuartal II. Proses recovery (pemulihan) diperkirakan akan mulai berlangsung pada awal tahun depan (2021).

Webinar ‘Tantangan dan Potensi Bisnis Logistik Semester II 2020’ yang diselenggarakan pada Rabu 26 Agustus tersebut menghadirkan beberapa narasumber dari pelaku bisnis transportasi dan logistik nasional, antara lain Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto sebagai keynote speaker, Ketua Umum DPP ALFI Yukki Nugrahawan Hanafi, Direktur Utama Samudera Indonesia Bani M Mulia, Senior Vice President Aliansi Bisnis dan Hubungan Pelanggan PT Pelabuhan Indonesia II / IPC Rachmat Prayogi, dan Komisaris Utama Gateway Container Line Subagiyo sebagai moderator.

Dalam keynote speech-nya, Ketua Umum DPP INSA Carmelita Hartoto mengakui pertumbuhan ekonomi Indonesia yang negatif pada kuartal II (-5,32%) turut dipengaruhi oleh kontraksi sektor transportasi yang cukup dalam (30,8%), termasuk angkutan laut. Sektor angkutan laut sendiri, menurutnya, turun sebesar 17,48%.

“Dalam kondisi normal transportasi selalu menjadi top contributor dalam PDB (Produk Domestik Bruto) Indonesia. Jadi sangat wajar, penurunan kinerja transportasi sangat berpengaruh terhadap kinerja ekonomi nasional,” ujar Carmelita yang familiar di sapa Meme.

Menurutnya, penurunan dua komponen besar dalam neraca jasa yaitu ongkos angkut dan asuransi impor menjadi kontributor terbesar dalam angkutan laut . Penurunan dua komponen tersebut menjadi penyumbang defisit transaksi berjalan yang menekan neraca pembayaran Indonesia pada kuartal II. Namun hal ini terjadi karena lebih dipengaruhi oleh kondisi sepinya perdagangan dan pelayaran.

“Kami berharap penurunan tekanan pada neraca pembayaran lebih didukung oleh faktor yang kuat dan lebih sustainable,” katanya.

Dalam kondisi pandemik ini logistik merupakan hal yang sangat krusial. Karena menopang pasokan logistik ke setiap daerah supaya tetap aman dan lancar. Carmelita menyampaikan bahwa tol laut yang diluncurkan pada awal 2015 dan saat ini telah memiliki 26 trayek, diharapkan menjadi penopang bagi industri pelayaran nasional. Apalagi, tujuh di antara trayek tersebut dilayani oleh tujuh pelayaran nasional.

“Kami memandang program ini (tol laut) masih perlu dioptimalisasikan sehingga apa yang menjadi tujuan untuk menekan disparitas harga antar wilayah bisa tercapai,” ungkapnya.

Carmelita juga menambahkan, industri pelayaran dan logistik menyambut baik Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 5 Tahun 2020 tentang Penataan Ekosistem Logistik Nasional. Menurutnya, Inpres ini tidak hanya membangun digitalisasi namun juga membagun daya saing dan jaringan nasional untuk memperkuat sektor logistik.

Indonesia sebagai negara kepulauan harus mendorong sektor logistik menjadi sektor yang dapat mendukung pemerataan ekonomi terutama bagi daerah Indonesia Timur.

“Saya berharap perdagangan di Indonesia difasilitasi oleh armada dan perusahaan logistik nasional oleh putra-putri Indonesia yang  menjadi cikal bakal penguatan pelayaran nasional untuk menjadi lokomotif perdagangan “ paparnya.

Carmelita menambahkan agar pelaku usaha dapat membaca kondisi krisis dan menjadikannya opportunity. Hal ini dilakukan agar tetap mampu bertahan dan bertumbuh.

Pemulihan Bertahap, E-Commerce Tetap Tumbuh

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan pemulihan logistik akan berlangsung secara sektoral. Beberapa sektor usaha akan melaju positif pada semester II 2020. Sedangkan yang lainnya masih akan tetap terdampak di tengah pandemi Covid-19.

“Kami melihatnya pada kuartal III 2020 akan terjadi kontraksi. Tetapi dengan daya beli diperbaiki, bantuan langsung ke masyarakat, kontraksi tidak terlalu dalam, bisa lebih baik dari semester I 2020 ini,” ujar Yukki pada webinar nasional dalam rangka HUT ISG ke 24.

Yukki meyakini kunci agar perekenomian tumbuh kembali adalah mempertahankan konsumsi masyarakat dengan meningkatkan daya beli. Selain itu, investasi harus lebih dipermudah, terutama bagi pelaku dan nasional.

Dia juga menyebutkan sejumlah sektor logistik akan tetap tumbuh positif pada masa adaptasi kebiasaan baru (AKB). Sejumlah sektor tersebut yakni jasa logistik e-commerce, jasa kurir, jasa pergudangan bahan pokok dan barang ritel, jasa layanan logistik yang berkaitan dengan transaksi business to costumer (B2C) dan costumer to costumer (C2C).

Sedangkan, angkutan barang moda udara, laut, truk peti kemas, truk ekspor impor serta kegiatan logistik yang transaksinya business to business (B2B) akan tetap terdampak.

“Dengan demikian, kolaborasi penting, termasuk bidang bisnis logistik perlu membuka diri, mereformasi struktural, strategi baru dan visi misi baru, adopsi teknologi,” katanya.

Walaupun demikian, semester II 2020 tidak akan menjadi mudah. Hal ini dikarenakan sejumlah industri masih terpukul oleh Covid-19. Namun, dia melihat masih ada peluang besar dari pasar domestik bagi seluruh industri yang nantinya akan membuat aktivitas logistik kembali menggeliat.

New Opportunity

Sementara itu, Direktur Utama PT Samudera Indonesia Tbk. (SMDR) Bani M Mulia mengyakini pertumbuhan negatif pada semester I 2020 tidak akan bertambah buruk pada semester II 2020. Menurutnya, dalam aktivitas logistik tantangan selalu ada. Karena itu, setiap pelaku harus siap untuk menghadapi tantangan tersebut.

“Selain Covid-19, sebetulnya tantangan zaman akan selalu ada dan menuntut kita harus selalu siap menghadapi setiap perubahan,” kata Bani.

“Bagi dunia pelayaran mungkin sekarang sedang ada tantangan yang tidak biasa kita kadapi setiap tahun tahun. Namun, justru ada new opportunity yang justru tumbuh,” lanjutnya.

Adanya new opportunity tersebut, menurut Bani, bisa terlihat dari sejumlah perusahaan pelayaran yang justru menaikkan target (pendapatan dan profit) selama masa pandemi. “Yang menarik dalam kondisi saat ini salah satu perusahaan yang menjadi leading container justru mengumumkan revisi anggaran yang ada cukup positif. Hal ini diikuti juga oleh beberapa operator peti kemas yang lain dengan melakukan efisiensi menyesuaikan volume,” katanya.

Dia menyebutkan indikasi positif memang terlihat pada perekonomian domestik karena penurunan volume domestik lebih sedikit. “Sedangkan ekspor impor kekhawatirannya juga sudah membaik, China terlihat pertumbuhan ekonominya. Ini akan ada dampak ke Indonesia ketika China positif karena pengiriman internasional 40% dari dan ke China,” katanya.

Untuk strategi ke depan, dia akan memperluas cakupan wilayah kerja di Indonesia dengan selektif dan mencari jalur yang lebih aman. Bani menambahkan jika Asean connectivity menjadi sangat penting. Indonesia harus bisa menjadi pemain dalam kondisi seperti ini, jangan hanya menjadi pasar. Tetapi harus tetap dengan penuh kehati-hatian dalam melihat optimisme di depan.

Pengiriman logistik melalui pelayaran internasional akan mengalami penurunan yang tidak terlalu dalam pada 2020 terutama pada pelayanan kontainer dan curah kering, sementara curah cair diperkirakan stabil.

Recovery Paling Cepat pada Q4

Sementara itu, Senior Vice President Aliansi Bisnis dan Hubungan Pelanggan PT Pelabuhan Indonesia II / IPC Rachmat Prayogi menilai usaha kepelabuhanan sebagai penunjang logistik masih akan mengalami penurunan hingga akhir 2020. 

Pandemik ini memberikan dampak secara global, termasuk Indonesia yang sebelumnya diprediksi akan tumbuh.

Rachmat yang menjadi narasumber penutup dalam webinar nasional HUT ISG ke 24, menyampaikan beberapa skenario untuk merespon kondisi saat ini. Skenario yang dipersiapkan tersebut yaitu: New Normal Scenario, Disorder Scenario, dan Survival Scenario. Tiga skenario tersebut diharapkan dapat mendorong ekonomi tumbuh berturut-turut sebesar 2,3%, 0.5% dan 3.8%.

Dia memprediksi pemulihan paling mungkin terjadi pada kuartal IV (Q4) 2020 yang ditopang pengiriman domestik. “Kondisi semester II 2020 masih declining walaupun asumsi di pemegang saham 2020 revisi anggaran dengan asumsi ada rebound pada kuartal IV 2020,” katanya.

Pada Agustus 2020, Rachmat menegaskan kinerja arus barang masih terus menurun. Dengan kondisi itu, IPC tetap mempersiapkan kondisi terburuk sepanjang 2020. Melihat krisis yang ada tidak semuanya berfokus pada resiko yang ada namun ada sisi peluang yang bisa menjadi capaian target.

“Kondisi ini yang membawa kita untuk tetap memperhatikan strategi ke depan dan melihat kemungkinan opportunity yang ada,“ ujarnya.

Menurutnya kondisi pandemik ini mendorong terjadi perubahan tujuan investasi yang menuju Asia Tenggara. Indonesia harus bisa merespon opportunity yang ada.

Sejauh ini, IPC berfokus melakukan perbaikan infrastruktur lunak seperti Sumber Daya Manusia, digitalisasi dan peningkatan operasi terminal serta memanfaatkan sister port sebagai mitra pembelajaran.

“Bahwa kita juga melakukan kolaborasi dengan para stakeholder untuk dapat membangun, support kepada masing-masing stakeholder juga government,” lanjutnya.

Rachmat menambahkan, IPC berkomitmen setiap bentuk transformasi kedepannya akan tetap sesuai jalurnya.

Saat ini, IPC memberikan insentif berupa relaksasi pembayaran kewajiban di pelabuhan. Hal ini dilakukan karena masalah utama bagi mitra IPC adalah arus kas. Rachmat juga menyatakan tidak menutup kemungkinan memberikan insentif tambahan dengan memperhatikan kondisi yang ada di masa AKB. Dia akan berdiskusi kembali dengan mitranya seperti operator kapal dan perusahaan bongkar muat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *