Tarif Naik Terus, Apakah Pelayaran Sedang Mencatut Krisis (Covid-19) Demi Keuntungan?

Tarif (spot rates) Rute Transpasifik terus naik fantastis. Keuntungan perusahaan pelayaran di tengah pengurangan kapasitas (blank sailing) di tengah krisis karena merebaknya pandemi covid-19 terus melonjak tajam. Fakta-fakta ini memicu kecurigaan.

Apakah pelayaran sedang mencatut krisis untuk mengambil keuntungan besar? Pertanyaan yang menggelitik ini dilontarkan Drewry, sebagaimana ditulis freightwave.com. Drewry merupakan sebuah konsultan pelayaran terkemuka yang berbasis di London.

“Sangat sulit dipahami, pelayaran berupaya untuk menghasilkan uang jauh lebih banyak dari yang mereka dapat sebelumnya, bahkan jauh lebih banyak dari masa normal,” komentar Drewry.

Strategi ‘blank sailing’ atau penangguhan sejumlah pelayaran yang dilakukan pelayaran terbayar tuntas.

“Dari perspektif public relation, berupaya mengambil keuntungan besar di saat situasi sedang krisis, bisa dikatakan sebagai aksi ‘mencatut’ krisis,’, tandas Drewry.

Drewry juga mempertanyakan sikap Komisi Federal Martim FMC (Federal Maritime Commission).  Apakah lembaga tersebut tidak melihat sesuatu yang aneh dari aksi kenaikan tarif yang dilakukan pelayaran, khususnya yang dilakukan tiga aliansi besar sebagai pemain utama pada Rute Transpasifik.

Pertanyaan itu pantas dilontarkan. Apalagi, FMC seolah-olah mengiakan terus langkah-langkah yang diambil perusahaan pelayaran, Pertama, FMC telah menyetujui langkah pelayaran untuk melakukan aksi ‘blank sailing’ berdasarkan hitungan dan prediksi demand (volume) mengalami penurunan. Kedua, FMC tahu jumlah blank sailing semakin mengecil, namun pada saat yang sama tarif terus naik. Dan ketiga, kesepakatan antara pelayaran dan FMC sama sekali tidak melarang kenaikan harga dan pengurangan jumlah layanan.

Kenaikan Tariff Hingga 70%

Tarif (spot rates) yang ada saat ini memang sangat fantastis. Hingga hari ini (Senin, 13 Juli), menurut Freightos Baltic Daily Index, spot rate untuk Asia-Amerika (West Coast) mencapai $2,776 per container 40ft (FEU). Angka ini hampir dua kali lipat dari tariff pada akhir bulan Februari, dan kurang lebih 70% lebih tinggi dari tariff pada periode yang sama dua tahun lalu.

Bahkan, menurut Shanghai Containerized Freight Index (SCFI), tarifnya lebih tinggi lagi. Pada awal Juli, menurut SCFI, tarif China-Amerika (West Coast) mencapai $2,920/ FEU, lebih tinggi dari rekor yang pernah terjadi sebelumnya.

Pada awal bulan Juli, pelayaran Kembali melakukan kenaikan atau general rate increase (GRI). Ini merupakan kenaikan untuk ketiga kalinya dalam enam minggu terakhir. Menurut Eytan Buchman, Chief Marketing Officer Freightos, hal ini sangat jarang terjadi, bahkan mungkin belum pernah terjadi sebelumnya.

Aliansi Bermain (?)

 Melihat konsolidasi antara pelayaran yang begitu solid, sangat wajar jika ada kecurigaan akan adanya bijakan kesepakatan harga antara pelayaran atau aliansi. Harga tidak dibiarkan bergerak bebas (anti-competitive pricing).

Apalagi, untuk kasus Rute Transpasifik yang didominasi oleh segelintir aliansi pelayaran. Menurut Alphaliner, sekitar 89% market share Rute Transpasifik dikuasai oleh tiga aliansi besar.

Ocean Alliance yang beranggotakan COSCO/OOCL, CMA CGM/APL, Evergreen, dan HMM menguasai market share 39%, kemudian disusul THE Alliance (Hapag-Lloyd, ONE, Yang Ming) dengan market share 30%, dan 2M Alliance (Maersk dan MSC) menguasai 20%.

Aksi para pelayaran (Aliansi) bukan tidak pernah kebaca oleh pengguna jasa atau pemilik barang. Jauh hari sebelumnya yakni pada tahun 2014, asosiasi pemilik barang Eropa the European Shippers Association (ESA) pernah mengajukan surat keberatan kepada FMC terkait aksi langkah ‘blank sailing’ yang dilakukan aliansi 2M pada saat itu.

“Blank sailings’ bisa saja merupakan sebuah aksi manipulasi pasar untuk menaikkan tariff,” kata ESA dalam suratnya kepada FMC saat itu. Menurut ESA, blank sailing bisa saja sengaja dilakukan untuk mendistorsi pasar agar bisa melakukan kenaikan tarif.

Atas keberatan ESA tersebut, FMC kemudian merumuskan kesepakatan kapan pelayaran atau aliansi boleh melaukan blank sailing. Kesepakatan antara FMC dan Aliansi tersebut berbunyi: “Pelayaran boleh melakukan blank sailings jika tingkat utilisasi berada di bawah ambang batas (ambang batas ditentukan oleh pelayaran sendiri) dan blank sailing harus proporsional sesuai dengan perkiraan turunnya permintaan.”

Supply Berangsur Normal, Kenapa Tariff Tetap Naik

Memang, menurut Buchman, FMC tentu sangat sulit untuk menilai apa yang terjadi saat ini karena perubahan begitu cepat.

Jika kenaikan tariff pada kuartal kedua (Q2) lebih disebakan karena keterbatasan dari sisi supply menyusul kebijakan blank sailing, namun mengapa pada Q3 di mana supply meningkat karena sejumlah pelayaran yang sebelumnya di-blank sailing sudah dihidupkan lagi.

Data FreightWaves menunjukkan angka blank sailing terus mengalami penurunan dari 12.7% pada Q2 menjadi hanya 3,3% pada Q3 (6% pada bulan Juli, 3% Agustus, dan 1% September).

Pelayaran memang banyak melakukan aksi blank sailing pada triwulan kedua karena ketakutan akan turunnya volume pada periode tersebut karena merebaknya pandemi covid-19. Akan tetapi, ternyata volume yang ada melampaui ekspektasi sehingga pelayaran kembali menghidupkan beberapa pelayaran yang sempat ditangguhkan sebelumnya.

Kendati supply bertambah karena sejumlah blank sailing yang semakin sedikit, akan tetapi tariff tidak turun, bahkan kembali naik.  Menurut Buchman, pelayaran beralasan kenaikan tariff terjadi karena ada kenaikan demand.

Menurut Buchman, pelayaran menjadikan kenaikan demand sebagai alasan kembali melakukan GRI pada bulan Juli.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *