Sejak tahun lalu, MSC mengambil alih posisi Maersk sebagai pelayaran terbesar global dari sisi kapasitas terpasang. MSC memiliki total kapasitas sebesar 4.339.910 TEUS, sedangkan Maersk sebanyak 4.275.244 TEUs. Kendati demikian, dalam hal penyedia layanan reefer (container berpendingin) Maersk masih tercatat sebagai pelayaran dengan kapasitas reefer terbanyak.
Manurut data Alphaliner, Maersk memiliki sekitar 504,000 reefer plug yang terdistribusi pada 735 kapalnya, sedangkan MSC hanya memiliki 443.000 reefer plug yang terpasang pada 663 kapal.
“Akuisisi Hamburg Süd pada 2017 turut mendongkrak reefer space Maersk. Sebagian besar kapal Hamburg Süd melayani perdagangan Amerika Latin yang sebagian besar berorientasi pada reefer,” kata Alphaliner sebagaimana ditulis gcaptain.com.
Persentase ruang untuk reefer pada beberapa kapal Maersk juga cukup tinggi. Bahkan ada yang mencapai 25% dari total space capacity. Kapal Cap San Nicolas yang berkapasitas 10.589 TEUS misalnya, dilengkapi dengan 2.100 reefer plug. Tidak ada jumlah sebanyak itu pada kapal yang sama. Jumlah ini hanya dilampaui oleh kapal yang jauh lebih besar seperti kapal CMA CGM Jaques Saade (23.000+) yang memiliki 2.200 reefer plug.
Menurut analisis sejumlah lembaga konsultan, persentase reefer space pada kapal-kapal milik perusahaan Eropa tercatat lebih tinggi yakni 20% dari total space. Sementara itu, kapal-kapal milik perusahaan yang berbasis di benua lain, termasuk di Asia, lebih rendah yakni 17,5% dari total space.
Kendati demikian, Alphaliner mengatakan persentase tersebut di atas tidak menggambarkan apa yang riil terjadi di pasar. “Kapal-kapal jenis Neo-panamax yang berkapasitas 13.000-15.000 TEU biasanya dilengkapi dengan 800 hingga 1.200 reefer plugs. Namun, fasilitas-fasilitas ini baru dioptimalkan ketika kapal-kapal tersebut beralih dari rute Timur-Barat ke Utara-Selatan,” kata Alphaliner.
Namun dalam dalam 18 bulan terakhir, menurut pengakuan para pemilik barang, mendapatkan space untuk pengiriman barang perishable (yang mudah rusak) dengan menggunakan reefer container jauh lebih sulit. Reefer container kalah bersaing dengan dry container dalam mendapatkan space karena harga rate dry container naik tajam dalam periode tersebut.
Selain itu, premi untuk peti kemas reefer telah terkikis oleh melonjaknya tarif angkutan peti kemas kering dan biaya tambahan peralatan yang tersedia untuk jalur pelayaran yang memasuki pasar spot.
Kurangnya minat operator (pelayaran) di pasar reefer memicu kenaikan traif charter (spot rate) kapal reefer khusus. Namun, dalam jangka panjang, tampaknya masih penuh ketidakpastian. Hal ini berdampak pada kurangnya investasi reefer plug pada pembangunan baru.

