Kenaikan tarif impor yang tajam pada barang-barang dari Tiongkok ke AS diperkirakan akan memicu langkah antisipatif dari produsen Tiongkok. Salah satunya adalah melalui apa yang disebut sebagai “inventaris strategis” — sebuah taktik yang bertujuan menyembunyikan asal barang agar dapat terhindar dari bea masuk yang lebih tinggi.
Seiring dengan kemenangan Donald Trump dalam pemilihan Presiden AS, perhatian dunia tertuju pada kebijakan proteksionis yang dijanjikan, termasuk penetapan tarif impor yang lebih tinggi pada barang-barang dari Tiongkok. Selama masa jabatan pertama Trump, langkah-langkah seperti ini sudah mempengaruhi pola perdagangan global, dengan banyak produsen Tiongkok yang mulai memindahkan produksi ke wilayah lain seperti Asia Tenggara dan Meksiko untuk menghindari tarif yang semakin meningkat.
Dalam laporan terbaru oleh Xeneta, analis senior Emily Stausbøll mengungkapkan bahwa salah satu dampak nyata dari kebijakan tarif ini adalah peningkatan kapasitas pengiriman ke wilayah seperti Timur Jauh ke Pantai Timur Amerika Selatan. Dalam sembilan bulan pertama tahun ini, volume perdagangan antara Timur Jauh dan Amerika Selatan mencapai rekor tertinggi 1,6 juta TEU, sebuah peningkatan signifikan sebesar 14,8% dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya pergeseran alur distribusi barang yang sebelumnya banyak mengalir ke AS.
Sebagai bagian dari strategi proteksi, produsen Tiongkok diketahui mulai mengumpulkan stok barang di berbagai lokasi yang tersebar, di luar Tiongkok, dengan tujuan untuk menyembunyikan asal usul produk mereka jika tarif lebih tinggi diberlakukan. Langkah ini, yang disebut “inventaris strategis”, memungkinkan mereka untuk tetap dapat mengirimkan barang ke AS tanpa terkena dampak tarif yang lebih tinggi. Fenomena ini semakin jelas seiring dengan prediksi bahwa kebijakan Trump akan semakin memperketat perdagangan antara AS dan Tiongkok, dan mendorong negara-negara lain untuk mengambil langkah serupa.
Pada laporan yang sama, Peter Sand, Kepala Analis Xeneta, mencatat bahwa peningkatan kapasitas pengiriman di wilayah lain, seperti Timur Tengah, India Sub-Continent, dan Asia Tenggara.
Peningkatan kapasitas ini berkaitan dengan kebutuhan untuk memenuhi permintaan yang tumbuh pesat akibat antisipasi tarif yang lebih tinggi, dengan para produsen memindahkan sebagian besar produksi mereka ke negara-negara yang tarifnya lebih rendah. Sand juga menambahkan bahwa meskipun ada peningkatan kapasitas, harga barang tetap melambat baik dalam perdagangan spot maupun kontrak.
Dengan semakin dekatnya masa jabatan kedua Donald Trump, “inventaris strategis” ini diyakini akan semakin memainkan peran penting.
Stausbøll mengungkapkan bahwa sebelum 2024, kapasitas perdagangan dari wilayah-wilayah tersebut (Timur Tengah, India Sub-Continent, dan Asia Tenggara), tidak pernah mencapai angka di atas 50.000 TEU/bulan, namun saat ini sudah melebihi 63.000 TEU.
Hal ini menunjukkan bahwa persiapan yang dilakukan oleh produsen Tiongkok sangat signifikan untuk menghadapi kebijakan tarif yang lebih keras, yang kemungkinan besar akan semakin memperburuk ketegangan perdagangan global. Bahkan dengan adanya perubahan tarif dan kebijakan perdagangan, ada keyakinan bahwa konsolidasi “inventaris strategis” yang telah dibangun oleh produsen Tiongkok ini akan semakin mendominasi pola perdagangan global.
Para produsen berusaha untuk mengantisipasi ketidakpastian ekonomi yang ditimbulkan oleh kebijakan proteksionis dan menjaga keberlanjutan ekspor mereka, terutama ke pasar besar seperti AS, yang merupakan tujuan utama ekspor mereka.

