Kemacetan parah jalur logistik dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok sebulan belakangan ini telah meresahkan asosiasi importir (GINSI), asosiasi pengusaha truk (Aptrindo) dan para sopir trailer.
Para sopir angkutan barang dan beberapa pengusaha angkutan, Sabtu kemarin melakukan pertemuan untuk membahas kemacetan parah khususnya di Terminal New Priok Container Terminal One (NPCT1).
Moh Salim dari persaudaraan sopir trailer Indonesia mengatakan dalam pertemuan disepakati mereka akan mengundang pihak NPCT1 agar duduk bersama mencari solusi untuk mengurai kemacetan di Gate In dan lapangan NPCT.1 yang rata rata harus antri 10 jam lebih.
“Kami para sopir harus nombok uang BBM akibat macet. Karena uang operasional dari pengusaha angkutan sudah tetap segitu. Mau macet atau tidak jatah BBM dari pengusaha tetap tidak ditambah, ” tutur Salim yang juga anggota Serikat Buruh Transportadi Pelabuhan Indonesia (SBTPI).
Ketum DPP Asosiasi Pengusaha Truk Indonesia (Aptrindo) Gemilang Tarigan dihubungi terpisah mengatakan kemacetan akses ke NPCT.1 karena terminal terdebut sudah over capacity.
“Pimpinan Pelindo II Elvyn G Masassya mestinya mengatur kapasitas terminal di bawah BUMN tersebut secara seimbang sesuai dengan daya dukung terminal tersebut,” kata Tarigan.
Tarigan mengatakan akibat macet ini pengusaha angkutan sangat dirugikan karena ritase armada jadi turun.
Kemacetan akses Pelabuhan Tanjung Priok juga merugikan importir, kata Ketua BPD Gabungan Importir Nasional Seluruh Indonesia (GINSI) DKI, Capt Subandi.
Subandi mendesak pihak terkait mencari solusi untuk mengatasi kemacetan akses logistik dari dan ke Pelabuhan Tanjung Priok termasuk di New Priok Container Terminal-One (NPCT-1).
Subandi menegaskan kondisi kemacetan akses logistik Priok itu telah menyebabkan kerugian bagi importir. Karena barang/peti kemas terlambat tiba di gudang importir atau pabrik.
Kondisi ini selain mengganggu kelangsungan produksi bila kargo impor berupa bahan baku, juga membuat proses distribusi kargo konsumsi menjadi lama sampai ke konsumen.
Menanggapi ini Indonesian Maritime Logistic and Transportation Watch (IMLOW) mengusulkan agar dilakukan pengalihan layanan sementara kapal dari NPCT-1 ke terminal peti kemas ekspor impor lainnya untuk mengurangi kepadatan.
Sekjen IMLOW, Achmad Ridwan Tento ungkapkan, kemacetan di jalur logistik pelabuhan Priok terjadi sudah lebih dari sebulan terakhir dan belakangan justru semakin “crowded”. (wilam)

